Hubungi Kami
Tips dan Edukasi

Benarkah Sapi Bisa Mengalami Maag? Ini Penjelasannya

Oleh Nama Penulis - 30 January 2026
514 kali dilihat

Banyak orang mengira gangguan maag hanya dialami manusia. Padahal, sapi juga bisa mengalami gangguan pencernaan yang sering disebut sebagai “maag sapi”. Kondisi ini berkaitan erat dengan sistem metabolisme pencernaan, khususnya pada rumen dan lambung sapi. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan ini dapat berdampak pada penurunan performa, kesehatan, bahkan produktivitas ternak.

Maag pada sapi merupakan gangguan fungsi pencernaan yang umumnya disebabkan oleh kesalahan manajemen pakan. Secara umum, kondisi ini terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu indigesti dan bloat (kembung). Keduanya berbeda dengan asidosis, meskipun sama-sama menyerang sistem pencernaan.

Indigesti terjadi ketika fungsi lambung menurun akibat pakan yang sulit dicerna atau tidak seimbang. Sapi yang mengalami indigesti biasanya menunjukkan penurunan nafsu makan dan minum, kotoran menjadi lebih kering, gerakan mengunyah yang tidak teratur, serta produksi air liur yang berkurang. Kondisi ini sering muncul akibat kualitas pakan yang kurang baik atau komposisi nutrisi yang tidak sesuai kebutuhan sapi.

Sementara itu, bloat atau kembung disebabkan oleh penumpukan gas berlebih di dalam rumen. Gangguan ini terjadi akibat proses fermentasi yang tidak normal atau masalah pada pencernaan. Gejala yang dapat terlihat antara lain hilangnya nafsu makan, perut bagian kiri yang tampak membesar, serta sapi terlihat lesu dan gelisah. Jika tidak segera ditangani, bloat dapat berisiko fatal.

Berbeda dengan dua kondisi tersebut, asidosis merupakan gangguan metabolik yang disebabkan oleh meningkatnya kadar asam di dalam rumen. Hal ini umumnya terjadi akibat pemberian pakan tinggi karbohidrat secara berlebihan atau perubahan jenis pakan yang terlalu mendadak. Asidosis ditandai dengan diare berbusa, penurunan nafsu makan, peradangan pada kuku, hingga risiko sapi ambruk dan mengalami kematian.

Untuk mencegah dan mengatasi gangguan pencernaan pada sapi, manajemen pakan menjadi kunci utama. Pemberian konsentrat sebaiknya selalu dikombinasikan dengan pakan berserat agar proses fermentasi di rumen tetap seimbang. Penggunaan pakan yang telah diformulasi secara tepat juga sangat dianjurkan, karena kandungan nutrisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan ternak. Selain itu, pengaturan jadwal dan jumlah pemberian pakan perlu diperhatikan agar sapi tidak mengalami stres pencernaan. Pada kondisi tertentu, pemberian buffer seperti kapur pakan atau kalsium karbonat (CaCO) dapat membantu menstabilkan pH rumen.

Gangguan pencernaan pada sapi, termasuk yang sering disebut sebagai maag, tidak boleh dianggap sepele. Indigesti, bloat, maupun asidosis dapat dicegah dengan manajemen pakan yang tepat dan konsisten. Dengan pemilihan pakan yang seimbang serta pengaturan pemberian yang baik, kesehatan pencernaan sapi dapat terjaga sehingga performa dan produktivitas ternak tetap optimal.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi pakan dan manajemen nutrisi ternak, kunjungi nusaqu.id/nusafeed atau hubungi tim nusaQu.